Sindrom Genitourinaria pada Menopause (Genitourinary Syndrome of Menopause/GSM
Apa itu GSM?
Genitourinary Syndrome of Menopause (GSM) adalah kumpulan gejala kronis akibat penurunan hormon estrogen yang memengaruhi vulva, vagina, uretra, dan kandung kemih setelah menopause.
Kondisi ini sangat umum terjadi, namun sering tidak dilaporkan karena banyak perempuan menganggapnya sebagai bagian normal dari proses penuaan.
Pada perempuan penyandang diabetes, gejala GSM dapat menjadi lebih berat karena meningkatnya risiko infeksi, gangguan pembuluh darah kecil (mikrovaskular), serta kerusakan saraf (neuropati).
Gejala yang dapat muncul
GSM dapat menimbulkan berbagai keluhan, antara lain:
• Vagina terasa kering.
• Rasa terbakar atau iritasi pada vagina.
• Berkurangnya pelumasan alami saat berhubungan seksual.
• Nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia).
• Gatal atau rasa tidak nyaman pada area vulva.
• Infeksi saluran kemih yang berulang.
• Sering buang air kecil atau sulit menahan kencing.
• Nyeri saat buang air kecil.
• Perdarahan setelah berhubungan seksual.
Perempuan penyandang diabetes juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi jamur vagina (kandidiasis) dan infeksi saluran kemih berulang, yang dapat memperberat gejala GSM serta menurunkan kualitas hidup dan kesehatan seksual.
Karena gejalanya berkembang perlahan, banyak perempuan tidak menyadari bahwa kondisi ini dapat ditangani secara medis.
Penilaian dalam praktik klinis
Tenaga kesehatan dapat membantu mengenali GSM melalui pertanyaan sederhana, misalnya:
• Apakah vagina terasa lebih kering atau tidak nyaman?
• Apakah sering mengalami infeksi saluran kemih atau rasa ingin buang air kecil terus-menerus?
• Apakah menopause memengaruhi kenyamanan saat berhubungan intim?
Selain itu, dokter perlu memastikan bahwa keluhan tersebut bukan disebabkan oleh kondisi lain, seperti infeksi, penyakit kulit pada area genital, atau kadar gula darah yang belum terkontrol.
Penanganan
Tujuan penanganan GSM adalah memperbaiki kesehatan jaringan vagina, mengurangi gejala, serta meningkatkan kualitas hidup.
Penanganan awal
Pendekatan yang umumnya dianjurkan meliputi:
• Menggunakan pelembap vagina (vaginal moisturizer) secara rutin.
• Menggunakan pelumas berbahan dasar air atau silikon saat berhubungan seksual.
• Menghindari produk yang dapat menyebabkan iritasi, seperti sabun atau cairan pembersih yang mengandung pewangi.
Terapi estrogen vagina
Terapi estrogen lokal pada vagina merupakan salah satu pilihan yang paling efektif untuk mengatasi GSM dan dinilai aman bagi sebagian besar perempuan, termasuk penyandang diabetes.
Manfaat yang dapat diperoleh antara lain:
• Meningkatkan pelumasan alami vagina.
• Meningkatkan elastisitas jaringan vagina.
• Mengurangi keluhan saluran kemih.
• Menurunkan risiko infeksi saluran kemih berulang.
• Meningkatkan kenyamanan saat berhubungan seksual.
Karena penyerapannya ke dalam sirkulasi tubuh sangat kecil, terapi ini umumnya dapat digunakan dalam jangka panjang bila gejala masih berlanjut.
Panduan NICE (2026) dan British Menopause Society (2025) juga mendukung penggunaan estrogen vagina lokal, bahkan pada sebagian perempuan yang tidak dapat menggunakan terapi sulih hormon sistemik. Namun, pada perempuan dengan riwayat kanker yang sensitif terhadap hormon, diperlukan konsultasi dengan dokter spesialis.
Hal yang perlu diperhatikan pada penyandang diabetes
Mengendalikan kadar gula darah dapat membantu menurunkan risiko infeksi sekaligus memperbaiki gejala GSM.
Selain itu, tenaga kesehatan juga perlu mempertimbangkan:
• Menilai kemungkinan infeksi jamur vagina yang berulang.
• Mengevaluasi penggunaan obat diabetes golongan SGLT2 inhibitor bila infeksi genital sering terjadi.
• Menganjurkan kebersihan area genital yang baik.
• Menciptakan suasana konsultasi yang nyaman agar perempuan dapat membicarakan kesehatan seksual tanpa rasa malu.
Penggunaan obat SGLT2 inhibitor
Obat diabetes golongan SGLT2 inhibitor bekerja dengan meningkatkan pengeluaran glukosa melalui urine. Akibatnya, kadar glukosa di sekitar area genital meningkat sehingga risiko infeksi jamur dapat bertambah.
Risiko ini menjadi lebih penting diperhatikan pada perempuan pascamenopause yang telah mengalami GSM atau atrofi vulvovagina.
Namun, munculnya infeksi genital tidak selalu berarti obat harus dihentikan.
Banyak perempuan tetap dapat melanjutkan terapi SGLT2 inhibitor dengan penanganan yang tepat, antara lain:
• Mengenali gejala infeksi sejak dini.
• Mengobati infeksi jamur menggunakan obat antijamur sesuai anjuran dokter.
• Menjaga kebersihan area genital.
• Mengoptimalkan pengendalian gula darah.
• Membedakan apakah keluhan disebabkan oleh infeksi atau justru merupakan bagian dari GSM.
Pada sebagian perempuan, terapi estrogen vagina juga dapat membantu mengurangi iritasi sehingga penggunaan SGLT2 inhibitor menjadi lebih nyaman.
Kapan perlu dirujuk?
Rujukan ke dokter spesialis dapat dipertimbangkan apabila:
• Gejala tidak membaik meskipun telah mendapatkan terapi yang adekuat.
• Diagnosis masih belum jelas.
• Diduga terdapat penyakit kulit pada area vulva.
• Infeksi berulang meskipun diabetes sudah dikelola dengan baik.
• Terdapat penyakit penyerta yang kompleks.
Kesimpulan
Sindrom genitourinaria pada menopause merupakan kondisi yang umum terjadi, dapat diobati, tetapi masih sering tidak dikenali.
Pada perempuan penyandang diabetes, gejala GSM dapat lebih berat karena dipengaruhi oleh kontrol gula darah, risiko infeksi, serta perubahan pada pembuluh darah dan saraf.
Membahas keluhan ini secara terbuka saat konsultasi diabetes dapat membantu diagnosis lebih dini, sehingga penanganan yang tepat dapat meningkatkan kenyamanan, kesehatan seksual, dan kualitas hidup.
Referensi:
-
NICE Guideline, 2026.
-
British Menopause Society, 2025.